Pantai Tanjung Tinggi Belitung
Pantai Tanjung Tinggi Belitung (Dok. Didno)
Setelah melihat film Laskar Pelangi beberapa tahun yang lalu ingin sekali rasanya berkunjung ke lokasi-lokasi yang ada di film tersebut. Sebuah film yang digarap berdasarkan buku karangan Andrea Hirata dengan seting pantai yang menawan dengan batu-batu besar menjulang. Ada rasa penasaran yang menggebu dalam hati untuk bisa berkunjung ke tempat-tempat yang ada di dalam film tersebut.

Beruntung kami bersama teman-teman blogger blogdetik, instagramer, dan pembaca yang aktif membaca informasi-informasi dari Detikcom mendapat kesempatan yang berharga untuk berkunjung ke bumi laskar pelangi Kabupaten Belitung.

Bandara H. AS. Hanandjoeddin Belitung (Dok. Didno)
Perjalanan dari Jakarta ke Belitung hanya ditempuh dalam waktu 50 menit menggunakan transportasi udara Sriwijaya Air. Bandara yang dituju adalah Bandara H. AS.Hanandjoeddin di Tanjung Pinang Belitung Propinsi Bangka Belitung atau yang lebih dikenal dengan singkatan menjadi Bangka Belitung.

Selepas beranjak dari bandara kami dibawa menggunakan bus khusus menuju Tanjung Tinggi. Lokasi dimana kami berkumpul untuk melakukan sesi sharing dengan BMKG, Bakamla dan Dinas Pariwisata setempat.

Keindahan pantai pasir putih dan batu-batu besar di Pantai Tanjung Tinggi (Dok. Didno)
Setibanya di lokasi tepatnya di Rumah Makan Lemadang, kami dan rombongan langsung menuju pantai Tanjung Tinggi.  Tak henti-hentinya dalam hati menyebut “Subhanallah” Maha Suci Allah yang telah menciptakan hamparan pantai pasir putih dan bebatuan beraneka ukuran yang di sekitarnya yang membuat pantai ini sangat indah.

Pemandangan ini jarang kami temui di Pulau Jawa, mengingat hamparan pantai utara Pulau Jawa sebagian pantainya landai dengan pasir biasa atau batu-batuan penangkal ombak. Sementara di Pantai selatan Pulau Jawa yang memiliki ombak tinggi, sebagian pantainya memiliki pasir biasa, ada juga pantai putih serta memiliki kontur berbukit, tebing dan karang.

Prasasti Laskar Pelangi (Dok. Didno)
Pantai Tanjung Tinggi ini selalu ramai dikunjungi pengunjung terutama saat weekend atau akhir pekan. Mayoritas pengunjung ke Pantai Tanjung Tinggi didominasi oleh warga Jakarta. Mereka menganggap beranggapan bahwa perjalanan menuju ke Belitung lebih cepat dibandingkan dengan pergi ke Puncak atau Anyer dengan menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara H. AS.Hanandjoeddin di Tanjung Pandan Belitung.

Keunikan pantai ini selain pantainya berpasir putih dan batuan besar dan kecil di pinggir pantai adalah untuk masuk ke lokasi wisata ini, pengunjung tidak dikenakan tarif sepeser pun. Begitu juga dengan parkir kendaraan seperti sepeda motor dan mobil pun digratiskan.

Batu-batu besar di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (Dok. Didno)
Pantainya yang landai dan tenang membuat banyak anak-anak, remaja dan orang tua banyak yang berenang di pantai ini. Selain itu beberapa anak membuat istana pasir atau membentuk binatang di pinggir pantai. Mereka terlihat menikmati keindahan alam pantai denga pasir putih yang indah ini.  
Keunikan lainnya adalah batu-batuan yang ada di pinggir pantai Tanjung Tinggi ini. Keunikannya adalah batu-batuan yang ada di pinggir pantai ini terjadi karena proses tektonik sehingga mengangkat tubuh batu granit puluhan kilometer ke permukaan bumi.

Pengunjung sedang berenang di Pantai (Dok. Didno)
Selama proses pengangkatan, tubuh batu granit tersebut mengalami peretakan, terkena cuaca, arus dan pasang surut air laut, dan organisme serta unsur-unsur lain selama jutaan tahun yang menyebabkan pelapukan dan mengurai batuan granit tersebut menjadi kalsiterit (batu-batuan kecil berbiji timah) dan pasir kuarsa.

Kalsiterit atau bijih timah yang mengendap di dasar laut, sementara sebagian pasir kuarsa kembali ke darat membentuk pasir putih. Seperti kita ketahui bahwa timah banyak digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga dari pasta gigi, kemasan kosmetik, pelapis kaleng, alumunium foil, peralatan rumah tangga, zirkonium (bahan penting pembangkit listrik tenaga nuklir) dan lain sebagainya.

Penjelasan tentang batu-batuan di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (Dok. Didno)
Suasana yang paling menarik pengunjung ke pantai Tanjung Tinggi adalah suasana sore hari. Terutama bagi mereka yang hobi fotografi untuk mengabadikan sunset (matahari terbenam). Saat kami berkunjung ke Pantai ini banyak wisatawan tidak hanya wisatawan lokal tetapi juga dari negara lain karena memiliki tujuan untuk mengabadikan momen langka yakni Gerhana Matahari Total yang melintasi Kepulauan Belitung.  

Wisata di Kepulauan Belitung ini tidak lepas dari peran serta seorang Andre Hirata yang membuat sebuah buku berjudul Laskar Pelangi kemudian difilmkan. Sehingga banyak orang yang mengetahui keindahan Pantai Tanjung Tinggi dari film tersebut. Semoga saya bisa berkunjung lagi kesini. 

Luar Biasa Keindahan Bumi Laskar Pelangi

Pantai Tanjung Tinggi Belitung
Pantai Tanjung Tinggi Belitung (Dok. Didno)
Setelah melihat film Laskar Pelangi beberapa tahun yang lalu ingin sekali rasanya berkunjung ke lokasi-lokasi yang ada di film tersebut. Sebuah film yang digarap berdasarkan buku karangan Andrea Hirata dengan seting pantai yang menawan dengan batu-batu besar menjulang. Ada rasa penasaran yang menggebu dalam hati untuk bisa berkunjung ke tempat-tempat yang ada di dalam film tersebut.

Beruntung kami bersama teman-teman blogger blogdetik, instagramer, dan pembaca yang aktif membaca informasi-informasi dari Detikcom mendapat kesempatan yang berharga untuk berkunjung ke bumi laskar pelangi Kabupaten Belitung.

Bandara H. AS. Hanandjoeddin Belitung (Dok. Didno)
Perjalanan dari Jakarta ke Belitung hanya ditempuh dalam waktu 50 menit menggunakan transportasi udara Sriwijaya Air. Bandara yang dituju adalah Bandara H. AS.Hanandjoeddin di Tanjung Pinang Belitung Propinsi Bangka Belitung atau yang lebih dikenal dengan singkatan menjadi Bangka Belitung.

Selepas beranjak dari bandara kami dibawa menggunakan bus khusus menuju Tanjung Tinggi. Lokasi dimana kami berkumpul untuk melakukan sesi sharing dengan BMKG, Bakamla dan Dinas Pariwisata setempat.

Keindahan pantai pasir putih dan batu-batu besar di Pantai Tanjung Tinggi (Dok. Didno)
Setibanya di lokasi tepatnya di Rumah Makan Lemadang, kami dan rombongan langsung menuju pantai Tanjung Tinggi.  Tak henti-hentinya dalam hati menyebut “Subhanallah” Maha Suci Allah yang telah menciptakan hamparan pantai pasir putih dan bebatuan beraneka ukuran yang di sekitarnya yang membuat pantai ini sangat indah.

Pemandangan ini jarang kami temui di Pulau Jawa, mengingat hamparan pantai utara Pulau Jawa sebagian pantainya landai dengan pasir biasa atau batu-batuan penangkal ombak. Sementara di Pantai selatan Pulau Jawa yang memiliki ombak tinggi, sebagian pantainya memiliki pasir biasa, ada juga pantai putih serta memiliki kontur berbukit, tebing dan karang.

Prasasti Laskar Pelangi (Dok. Didno)
Pantai Tanjung Tinggi ini selalu ramai dikunjungi pengunjung terutama saat weekend atau akhir pekan. Mayoritas pengunjung ke Pantai Tanjung Tinggi didominasi oleh warga Jakarta. Mereka menganggap beranggapan bahwa perjalanan menuju ke Belitung lebih cepat dibandingkan dengan pergi ke Puncak atau Anyer dengan menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara H. AS.Hanandjoeddin di Tanjung Pandan Belitung.

Keunikan pantai ini selain pantainya berpasir putih dan batuan besar dan kecil di pinggir pantai adalah untuk masuk ke lokasi wisata ini, pengunjung tidak dikenakan tarif sepeser pun. Begitu juga dengan parkir kendaraan seperti sepeda motor dan mobil pun digratiskan.

Batu-batu besar di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (Dok. Didno)
Pantainya yang landai dan tenang membuat banyak anak-anak, remaja dan orang tua banyak yang berenang di pantai ini. Selain itu beberapa anak membuat istana pasir atau membentuk binatang di pinggir pantai. Mereka terlihat menikmati keindahan alam pantai denga pasir putih yang indah ini.  
Keunikan lainnya adalah batu-batuan yang ada di pinggir pantai Tanjung Tinggi ini. Keunikannya adalah batu-batuan yang ada di pinggir pantai ini terjadi karena proses tektonik sehingga mengangkat tubuh batu granit puluhan kilometer ke permukaan bumi.

Pengunjung sedang berenang di Pantai (Dok. Didno)
Selama proses pengangkatan, tubuh batu granit tersebut mengalami peretakan, terkena cuaca, arus dan pasang surut air laut, dan organisme serta unsur-unsur lain selama jutaan tahun yang menyebabkan pelapukan dan mengurai batuan granit tersebut menjadi kalsiterit (batu-batuan kecil berbiji timah) dan pasir kuarsa.

Kalsiterit atau bijih timah yang mengendap di dasar laut, sementara sebagian pasir kuarsa kembali ke darat membentuk pasir putih. Seperti kita ketahui bahwa timah banyak digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga dari pasta gigi, kemasan kosmetik, pelapis kaleng, alumunium foil, peralatan rumah tangga, zirkonium (bahan penting pembangkit listrik tenaga nuklir) dan lain sebagainya.

Penjelasan tentang batu-batuan di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (Dok. Didno)
Suasana yang paling menarik pengunjung ke pantai Tanjung Tinggi adalah suasana sore hari. Terutama bagi mereka yang hobi fotografi untuk mengabadikan sunset (matahari terbenam). Saat kami berkunjung ke Pantai ini banyak wisatawan tidak hanya wisatawan lokal tetapi juga dari negara lain karena memiliki tujuan untuk mengabadikan momen langka yakni Gerhana Matahari Total yang melintasi Kepulauan Belitung.  

Wisata di Kepulauan Belitung ini tidak lepas dari peran serta seorang Andre Hirata yang membuat sebuah buku berjudul Laskar Pelangi kemudian difilmkan. Sehingga banyak orang yang mengetahui keindahan Pantai Tanjung Tinggi dari film tersebut. Semoga saya bisa berkunjung lagi kesini. 

No comments:

Post a Comment