Ragit (Dok. Didno)

Setiap sore hari pada bulan Puasa enaknya ngabuburit mencari kuliner yang unik dan menarik untuk berbuka puasa. Walaupun jarak antara rumah dengan lokasi kuliner agak jauh dengan menempuh perjalanan hampir satu jam, tetapi tidak menjadi masalah asalkan mendapatkan makanan yang diinginkan.

Setelah sampai di Kota Indramayu lalu saya bertanya kepada beberapa anak muda yang sedang ngabuburit di sekitaran Sport Center Indramayu, pertanyaannya simpel, apa makanan khas Indramayu yang disukai?. Ternyata jawaban dari anak-anak muda tersebut sama yakni Ragit. Akhirnya setelah bertanya-tanya saya memutuskan untuk mencari makanan khas Indramayu tersebut.

Jl. Pangeran Arya Indramayu (Dok. Didno)

Mereka menunjukkan ke salah satu jalan yang setiap bulan Ramadhan selalu ramai dengan para penjual makanan. Nama jalan tersebut adalah Jalan Pangeran Arya di Kota Indramayu. Karena penasaran dengan makanan khas tersebut akhirnya saya memutuskan untuk mencari Ragit makanan khas Indramayu.

Penjual Mie Ragit (Dok. Didno)

Di salah satu sudut jalan tersebut saya menemukan penjaja makanan Ragit yang bernama Darista. Beruntung saya masih kebagian Ragit yang tinggal tersisa dua lagi, satunya langsung disamber ibu-ibu yang menyukai makanan tersebut. Makanan ini sangat laris terutama pada saat bulan Puasa untuk penambah selera makan karena ada sambal pedasnya.

Mie Ragit Siap Santap (Dok. Didno)

Ragit adalah makanan tradisional khas Indramayu yang terdiri dari mie dan telor dadar yang diberi kuah udang santan yang diberi tambahan sambal kacang pedas. Rasa Ragit ini memang khas karena rasa kuah kaldunya yang gurih dan lezat apalagi disantap dalam kondisi masih hangat. Tapi karena waktunya belum berbuka puasa akhirnya saya membawanya Ragit tersebut ke satu tempat sambil menunggu adzan Maghrib yaitu Masjid Agung Indramayu.

Buka Puasa Bersama di Masjid Agung Indramayu (Dok. Didno)

Setelah sampai di Masjid Agung Indramayu saya berbaur jamaah masjid yang sedang menunggu waktunya berbuka puasa. Tidak berapa lama sirene tanda waktu berbuka puasa pun terdengar. Para jamaah masjid dan saya membatalkan puasa dengan segelas air dan kemudian siap-siap untuk shalat Maghrib berjamaah.

Setelah Shalat Maghrib berjamaah selesai saya akhirnya membuka Ragit yang sudah saya beli dengan harga lima ribu rupiah satu porsinya tadi sore sebelum adzan Maghrib. Setelah dinikmati ternyata gurih dan lezat yang namanya Ragit. Sendok demi sendok akhirnya makanan khas Indramayu tersebut dilahap sampai habis, yang tersisa hanya sendok dan bungkusnya saja.

Berburu Ragit Makanan Khas Indramayu


Ragit (Dok. Didno)

Setiap sore hari pada bulan Puasa enaknya ngabuburit mencari kuliner yang unik dan menarik untuk berbuka puasa. Walaupun jarak antara rumah dengan lokasi kuliner agak jauh dengan menempuh perjalanan hampir satu jam, tetapi tidak menjadi masalah asalkan mendapatkan makanan yang diinginkan.

Setelah sampai di Kota Indramayu lalu saya bertanya kepada beberapa anak muda yang sedang ngabuburit di sekitaran Sport Center Indramayu, pertanyaannya simpel, apa makanan khas Indramayu yang disukai?. Ternyata jawaban dari anak-anak muda tersebut sama yakni Ragit. Akhirnya setelah bertanya-tanya saya memutuskan untuk mencari makanan khas Indramayu tersebut.

Jl. Pangeran Arya Indramayu (Dok. Didno)

Mereka menunjukkan ke salah satu jalan yang setiap bulan Ramadhan selalu ramai dengan para penjual makanan. Nama jalan tersebut adalah Jalan Pangeran Arya di Kota Indramayu. Karena penasaran dengan makanan khas tersebut akhirnya saya memutuskan untuk mencari Ragit makanan khas Indramayu.

Penjual Mie Ragit (Dok. Didno)

Di salah satu sudut jalan tersebut saya menemukan penjaja makanan Ragit yang bernama Darista. Beruntung saya masih kebagian Ragit yang tinggal tersisa dua lagi, satunya langsung disamber ibu-ibu yang menyukai makanan tersebut. Makanan ini sangat laris terutama pada saat bulan Puasa untuk penambah selera makan karena ada sambal pedasnya.

Mie Ragit Siap Santap (Dok. Didno)

Ragit adalah makanan tradisional khas Indramayu yang terdiri dari mie dan telor dadar yang diberi kuah udang santan yang diberi tambahan sambal kacang pedas. Rasa Ragit ini memang khas karena rasa kuah kaldunya yang gurih dan lezat apalagi disantap dalam kondisi masih hangat. Tapi karena waktunya belum berbuka puasa akhirnya saya membawanya Ragit tersebut ke satu tempat sambil menunggu adzan Maghrib yaitu Masjid Agung Indramayu.

Buka Puasa Bersama di Masjid Agung Indramayu (Dok. Didno)

Setelah sampai di Masjid Agung Indramayu saya berbaur jamaah masjid yang sedang menunggu waktunya berbuka puasa. Tidak berapa lama sirene tanda waktu berbuka puasa pun terdengar. Para jamaah masjid dan saya membatalkan puasa dengan segelas air dan kemudian siap-siap untuk shalat Maghrib berjamaah.

Setelah Shalat Maghrib berjamaah selesai saya akhirnya membuka Ragit yang sudah saya beli dengan harga lima ribu rupiah satu porsinya tadi sore sebelum adzan Maghrib. Setelah dinikmati ternyata gurih dan lezat yang namanya Ragit. Sendok demi sendok akhirnya makanan khas Indramayu tersebut dilahap sampai habis, yang tersisa hanya sendok dan bungkusnya saja.

No comments:

Post a Comment