Lawang Sewu Semarang (Dok. Didno)

Propinsi Jawa Tengah sebenarnya sering saya kunjungi. Karena setiap tahun sekolah kami selalu mengadakan study tour ke salah satu keajaiban dunia yang berada di kota Magelang Jawa Tengah yakni Candi Borobudur.

Selain Candi Borobudur saya juga pernah berkunjung ke tempat wisata Batu Raden di Banyumas, Goa Jatijajar dan Pantai Ayah di Kebumen Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kesan yang ada dibenak saya saat itu, sebelum mengunjungi Lawang Sewu adalah bangunan tua yang memiliki kekuatan magis dan menyeramkan. Itu tidak lain karena melihat salah satu acara di televisi swasta yang menggambarkan sosok gaib yang ada di bangunan tersebut.

Di Lantai II Lawang Sewu (Dok. Didno)

Tetapi kesan angker dan menyeramkan tersebut dengan serta-merta hilang saat pertama kali berkunjung ke Lawang Sewu. Karena pada saat saya mengunjungi Lawang Sewu ada acara pagelaran otomotif yang diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Kota Semarang.  

Karena ingin mengetahui bagian-bagian dari bangunan Lawang Sewu, kami akhirnya meminta jasa pemandu wisata untuk mengantarkan kami menyusuri bagian-bagian dari Lawang Sewu dan menceritakan sejarah dari Lawang Sewu yang kini digunakan sebagai Museum Kereta Api milik PT. KAI yang saat itu masih direnovasi.
Lawang Sewu Bagian Paling Atas (Para)

Setelah membeli tiket masuk, kami langsung menuju ke lantai kedua Lawang Sewu. Di sini kami melihat banyak sekali ruang kosong yang menurut cerita dari pemandu wisata saat ini sering digunakan foto prewedding tidak hanya dari warga Semarang tetapi juga dari kota lain.

Selepas melihat ruangan demi ruangan di lantai dua, kami langung menuju bagian bangunan yang paling atas. Ternyata di bagian atas ada tempat yang konon dulunya sering digunakan untuk pementasan seni. Bagian paling atas ini jarang dikunjungi wisatawan karena lokasinya penuh debu. Tetapi karena penasaran kami menuju ke bagian paling atas ini.  

Foto di Pintu-pintu Lawang Sewu
Puas melihat-lihat semua bagian di lantai dua dan bagian bawah atap Gedung Lawang Sewu kami diajak mengelilingi bagian lain. Kami melihat banyak barang-barang di gedung ini dibiarkan sebagaimana aslinya. Seperti urinoir, wastafel dan toilet di bangunan ini masih asli buatan Belanda belum ada yang diganti.

Kami pun diajak mengitari bagian belakang bangunan ini serta ditunjukkan salah satu ruangan yang dulunya dijadikan tempat penjara para tentara atau warga Indonesia yang membangkang terhadap Belanda, dan juga digunakan oleh tentara Jepang untuk dijadikan sel bagi tawanannya.

Konon waktu zaman dulu, orang yang meninggal di sel ini kemudian di buang ke sungai yang ada di bagian belakang Lawang Sewu. Sehingga wajar jika aroma mistis selalu ada apalagi jika mengunjungi Lawang Sewu pada malam hari. Karena tempat ini pernah dijadikan tempat orang-orang tidak berdosa dibunuh.

Tempat pembuangan mayat pada zaman Belanda di Lawang Sewu (Dok. Didno)

Setelah melihat bagian belakang bangunan ini, kami menuju bagian depan bangunan samping Lawang Sewu. Pada saat itu ruangan yang ada di lantai pertama digunakan untuk stand acara otomotif. Ada yang menjual pernak-pernik seperti gantungan kunci, jaket, korek api, kaos dan lain sebagainya. Kami juga melihat aksi motor gede sedang dipajang di acara tersebut.

Kemudian kami diajak oleh Pemandu Wisata melihat-lihat ke dalam bangunan utama Lawang Sewu. Saat itu sebagian ruangannya digunakan untuk pameran, sebagian lagi berisi sejarah mengenai museum kereta api di Indonesia. Di Lawang Sewu ini Anda juga bisa menikmati kereta kuno yang ada di bagian depan Lawang Sewu. Anda bisa berfoto sepuasnya dengan berbagai gaya favorit Anda.

Rasanya jika Anda berkunjung ke Semarang, belum lengkap jika Anda belum mengunjungi Lawang Sewu. Saya juga kalau ada rejeki dan waktu ingin mengunjungi Lawang Sewu lagi, saya juga ingin menikmati perkembangan Lawang Sewu setelah di renovasi sambil melihat-lihat keindahan kota dan menikmati makanan khas dari kota Semarang.  

Ke Semarang Belum Lengkap Kalau Belum Ke Lawang Sewu

Lawang Sewu Semarang (Dok. Didno)

Propinsi Jawa Tengah sebenarnya sering saya kunjungi. Karena setiap tahun sekolah kami selalu mengadakan study tour ke salah satu keajaiban dunia yang berada di kota Magelang Jawa Tengah yakni Candi Borobudur.

Selain Candi Borobudur saya juga pernah berkunjung ke tempat wisata Batu Raden di Banyumas, Goa Jatijajar dan Pantai Ayah di Kebumen Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kesan yang ada dibenak saya saat itu, sebelum mengunjungi Lawang Sewu adalah bangunan tua yang memiliki kekuatan magis dan menyeramkan. Itu tidak lain karena melihat salah satu acara di televisi swasta yang menggambarkan sosok gaib yang ada di bangunan tersebut.

Di Lantai II Lawang Sewu (Dok. Didno)

Tetapi kesan angker dan menyeramkan tersebut dengan serta-merta hilang saat pertama kali berkunjung ke Lawang Sewu. Karena pada saat saya mengunjungi Lawang Sewu ada acara pagelaran otomotif yang diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Kota Semarang.  

Karena ingin mengetahui bagian-bagian dari bangunan Lawang Sewu, kami akhirnya meminta jasa pemandu wisata untuk mengantarkan kami menyusuri bagian-bagian dari Lawang Sewu dan menceritakan sejarah dari Lawang Sewu yang kini digunakan sebagai Museum Kereta Api milik PT. KAI yang saat itu masih direnovasi.
Lawang Sewu Bagian Paling Atas (Para)

Setelah membeli tiket masuk, kami langsung menuju ke lantai kedua Lawang Sewu. Di sini kami melihat banyak sekali ruang kosong yang menurut cerita dari pemandu wisata saat ini sering digunakan foto prewedding tidak hanya dari warga Semarang tetapi juga dari kota lain.

Selepas melihat ruangan demi ruangan di lantai dua, kami langung menuju bagian bangunan yang paling atas. Ternyata di bagian atas ada tempat yang konon dulunya sering digunakan untuk pementasan seni. Bagian paling atas ini jarang dikunjungi wisatawan karena lokasinya penuh debu. Tetapi karena penasaran kami menuju ke bagian paling atas ini.  

Foto di Pintu-pintu Lawang Sewu
Puas melihat-lihat semua bagian di lantai dua dan bagian bawah atap Gedung Lawang Sewu kami diajak mengelilingi bagian lain. Kami melihat banyak barang-barang di gedung ini dibiarkan sebagaimana aslinya. Seperti urinoir, wastafel dan toilet di bangunan ini masih asli buatan Belanda belum ada yang diganti.

Kami pun diajak mengitari bagian belakang bangunan ini serta ditunjukkan salah satu ruangan yang dulunya dijadikan tempat penjara para tentara atau warga Indonesia yang membangkang terhadap Belanda, dan juga digunakan oleh tentara Jepang untuk dijadikan sel bagi tawanannya.

Konon waktu zaman dulu, orang yang meninggal di sel ini kemudian di buang ke sungai yang ada di bagian belakang Lawang Sewu. Sehingga wajar jika aroma mistis selalu ada apalagi jika mengunjungi Lawang Sewu pada malam hari. Karena tempat ini pernah dijadikan tempat orang-orang tidak berdosa dibunuh.

Tempat pembuangan mayat pada zaman Belanda di Lawang Sewu (Dok. Didno)

Setelah melihat bagian belakang bangunan ini, kami menuju bagian depan bangunan samping Lawang Sewu. Pada saat itu ruangan yang ada di lantai pertama digunakan untuk stand acara otomotif. Ada yang menjual pernak-pernik seperti gantungan kunci, jaket, korek api, kaos dan lain sebagainya. Kami juga melihat aksi motor gede sedang dipajang di acara tersebut.

Kemudian kami diajak oleh Pemandu Wisata melihat-lihat ke dalam bangunan utama Lawang Sewu. Saat itu sebagian ruangannya digunakan untuk pameran, sebagian lagi berisi sejarah mengenai museum kereta api di Indonesia. Di Lawang Sewu ini Anda juga bisa menikmati kereta kuno yang ada di bagian depan Lawang Sewu. Anda bisa berfoto sepuasnya dengan berbagai gaya favorit Anda.

Rasanya jika Anda berkunjung ke Semarang, belum lengkap jika Anda belum mengunjungi Lawang Sewu. Saya juga kalau ada rejeki dan waktu ingin mengunjungi Lawang Sewu lagi, saya juga ingin menikmati perkembangan Lawang Sewu setelah di renovasi sambil melihat-lihat keindahan kota dan menikmati makanan khas dari kota Semarang.  

No comments:

Post a Comment