e2b37229a497a9f7b01d5faf1fd8959e_hamparan-batu-megalith
Gunung Padang Cianjur (Dok. Didno)
Situs megalitikum Gunung Padang Cianjur ternyata menyimpan seribu misteri di dalamnya. Dari perkiraan pembuatannya yang menurut para ahli lebih awal dari pembuatan candi dan piramida. Sampai ada kekuatan magis untuk membuat sebuah bangunan dengan bahan batu yang memiliki bentuk tertentu berada di atas bukit.
Saya kebetulan orang yang penasaran dengan hal-hal seperti ini. Setelah bertanya kepada para petugas Situs Gunung Padang akhirnya saya ditunjukan kepada salah seorang petugas penjaga situs Gunung Padang yang dianggap mengetahui sejarah Gunung Padang dan hal-hal yang berbau mistis tentang Gunung tersebut, orang tersebut adalah Pak Nanang.


38f1ff41adcf756b8f1fb2e47e46fdc3_pak-nanang-petugas-gunung-padang
Pak Nanang Petugas Situs Gunung Padang (Dok. Didno)
Di awal pembicaraan saya menanyakan tentang perkiraan dibuatnya punden berundak situs Gunung Padang. Pak Nanang sampai saat ini para ahli belum sepakat menyimpulkan kapan batu-batu megalitik tersebut dibuat. Beberapa ahli sejarah mengatakan 4.700 SM ada juga yang mengatakan 10.000 SM.

Tapi yang pasti situs ini ditemukan oleh petani yang sedang berladang. Ketiga petani tersebut bernama Bapak Endi, Soma dan Abidin. Pada saat itu situs tersebut tertutup oleh lebatnya pepohonan dan semak belukar. Sehingga untuk berkunjung ke Gunung Padang pada waktu dulu harus membawa obor maka gunung tersebut oleh masyarakat sekitar di sebut Gunung Siang Padang atau artinya Siang Terang.

Menurut Pak Nanang Gunung Padang terdiri dari 5 teras. Teras yang pertama disebut dengan pamuka lawang atau (Pembuka Pintu). Di tandai dengan ada dua buah batu yang berdiri posisinya seperti pintu, lokasinya berada paling bawah. Teras kedua disebut dengan bukit masigit karena batuan-batuan yang terbentuk di teras tersebut menyerupai masjid. 

Teras ketiga disebut dengan mahkota dunya atau Mahkota dunia. Teras keempat ada yang menyebut tapak kujang, ada yang menyebut batu kanuragaan, ada yang menyebut batu kanuragan. Sedangkan teras yang paling atas disebut dengan singgasana.

Saya kemudian ditunjukkan dengan salah satu batu Singgasana yang merupakan tempat petilasan Prabu Siliwangi saat bersemedi atau menenangkan diri. Pada teras kelima juga ada batu yang dianggap petilasan para sembilan wali atau yang lebih dikenal dengan Wali Songo.

Saat setelah memelihat batu Singgasana, saya kembali duduk di tempat duduk dengan Pak Nanang. Kebetulan di sebelah Pak Nanang ada seorang perempuan tua yang ternyata setelah diperkenalkan oleh Pak Nanang dia adalah Mamah Emi. Mamah Emi ini adalah turunan dari Kuncen Gunung Padang Pak Cece yang sudah meninggal dunia.

Akhirnya perbincangan pun semakin menarik karena Mamah Emi dan Pak Nanang saling mengisi dan melengkapi sejarah dari Gunung Padang. Menurut Mamah Emi, batu-batu yang ada di situs megalitikum Gunung Padang Cianjur mempunyai makna tidak tersurat akan besaran Allah SWT. Coba lihat sisi-sisi batu megalitikum tersebut bentuknya berapa?. Lalu saya menghitung ada yang segi lima. Kemudian menjawab segi lima itu makna dari rukun islam itu ada lima.

Coba lihat lagi yang lain ada yang segi enam, itu menunjukan makna bahwa rukun iman itu ada enam. Kemudian saya melihat ada yang segi empat, lalu Mamah Emi mengungkapkan bahwa itu jumlah rakaat dalam shalat paling banyak ada empat rakaat.

Saya langsung mengucap Subhana Allah.. Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu semuanya punya makna untuk umatnya. Kemudian Mamah Emi menunjukkan kepada saya, coba lihat situs Gunung Padang ini mengarah ke sebelah mana?. Setelah dilihat dan dijelaskan oleh Mamah Emi ternyata Situs Gunung Padang sejajar dan dengan Gunung Keneng, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango yang artinya mengarah ke arah Barat atau Kiblat.

Lalu saya bertanya kepada Pak Nanang tentang keberadaan goa yang ada di situs Gunung Padang, tapi Pak Nanang dan Mamah Emi ini tidak mau menjelaskan tentang keberadaan Gunung Padang. Saya sendiri sebenarnya penasaran dengan keberadaan goa yang ada di Gunung Padang tetapi mereka berdua mohon maaf tidak bisa menjelaskan kepada saya.

Membuat saya semakin penasaran, lalu saya bertanya lagi tempat ini sekarang banyak dikunjungi oleh siapa saja. Mereka menjawab bahwa situs Gunung Padang kalau pada siang hari terutama pada hari minggu dan libur nasional, banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ingin mengetahui sejarah dan meneliti tentang situs tersebut.

Sedangkan pada malam hari terutama pada bulan Maulid dan malam Jumat Kliwon banyak pengunjung yang datang ke situs Gunung Padang untuk berziarah. Mereka berkunjung ke Gunung tersebut untuk berbagai kepentingan, ada yang meminta pengasihan, ada yang ingin di doakan agar anaknya pintar, ada yang minta penyembuhan, kenaikan pangkat bahkan ada juga orang-orang yang ingin menjadi pejabat. Salah satunya adalah almarhum Ali Sadikin ketika sebelum menjadi Gubernur pernah berziarah ke Gunung Padang.

Mamah Emi mengatakan kepada saya kalau mau berziarah jangan pada malam Sabtu. Karena karuhun atau leluhur yang ada di Gunung Padang sedang sowan atau berkunjung ke Cirebon. Saya penasaran lagi berarti Leluhur Gunung Padang ada hubungan dengan Cirebon. Ternyata benar salah satu wali yang berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati pun pernah singgah dan bersemedi di Gunung Padang tersebut.

Karena hari sudah mulai sore saya akhirnya mohon pamit kepada Pak Nanang dan Mamah Emi. Tapi sebelum pulang Mamah Emi berpesan kepada saya. Bahwa mereka berharap para pengunjung yang mengunjungi situs Gunung Padang untuk mengikuti aturan dan memiliki etika saat berkunjung ke situs Gunung Padang ini. 

Pertama sering-seringlah baca surat Al Ikhlas saat berkunjung ke Gunung Padang, kemudian jangan menggunakan tempat tersebut untuk berpacaran, karena tempat tersebut merupakan tempat suci dan disucikan oleh para leluhur serta untuk menenangkan diri dan mensyukuri semua ciptaan Sang Pencipta.

Menguak Misteri Gunung Padang Cianjur

e2b37229a497a9f7b01d5faf1fd8959e_hamparan-batu-megalith
Gunung Padang Cianjur (Dok. Didno)
Situs megalitikum Gunung Padang Cianjur ternyata menyimpan seribu misteri di dalamnya. Dari perkiraan pembuatannya yang menurut para ahli lebih awal dari pembuatan candi dan piramida. Sampai ada kekuatan magis untuk membuat sebuah bangunan dengan bahan batu yang memiliki bentuk tertentu berada di atas bukit.
Saya kebetulan orang yang penasaran dengan hal-hal seperti ini. Setelah bertanya kepada para petugas Situs Gunung Padang akhirnya saya ditunjukan kepada salah seorang petugas penjaga situs Gunung Padang yang dianggap mengetahui sejarah Gunung Padang dan hal-hal yang berbau mistis tentang Gunung tersebut, orang tersebut adalah Pak Nanang.


38f1ff41adcf756b8f1fb2e47e46fdc3_pak-nanang-petugas-gunung-padang
Pak Nanang Petugas Situs Gunung Padang (Dok. Didno)
Di awal pembicaraan saya menanyakan tentang perkiraan dibuatnya punden berundak situs Gunung Padang. Pak Nanang sampai saat ini para ahli belum sepakat menyimpulkan kapan batu-batu megalitik tersebut dibuat. Beberapa ahli sejarah mengatakan 4.700 SM ada juga yang mengatakan 10.000 SM.

Tapi yang pasti situs ini ditemukan oleh petani yang sedang berladang. Ketiga petani tersebut bernama Bapak Endi, Soma dan Abidin. Pada saat itu situs tersebut tertutup oleh lebatnya pepohonan dan semak belukar. Sehingga untuk berkunjung ke Gunung Padang pada waktu dulu harus membawa obor maka gunung tersebut oleh masyarakat sekitar di sebut Gunung Siang Padang atau artinya Siang Terang.

Menurut Pak Nanang Gunung Padang terdiri dari 5 teras. Teras yang pertama disebut dengan pamuka lawang atau (Pembuka Pintu). Di tandai dengan ada dua buah batu yang berdiri posisinya seperti pintu, lokasinya berada paling bawah. Teras kedua disebut dengan bukit masigit karena batuan-batuan yang terbentuk di teras tersebut menyerupai masjid. 

Teras ketiga disebut dengan mahkota dunya atau Mahkota dunia. Teras keempat ada yang menyebut tapak kujang, ada yang menyebut batu kanuragaan, ada yang menyebut batu kanuragan. Sedangkan teras yang paling atas disebut dengan singgasana.

Saya kemudian ditunjukkan dengan salah satu batu Singgasana yang merupakan tempat petilasan Prabu Siliwangi saat bersemedi atau menenangkan diri. Pada teras kelima juga ada batu yang dianggap petilasan para sembilan wali atau yang lebih dikenal dengan Wali Songo.

Saat setelah memelihat batu Singgasana, saya kembali duduk di tempat duduk dengan Pak Nanang. Kebetulan di sebelah Pak Nanang ada seorang perempuan tua yang ternyata setelah diperkenalkan oleh Pak Nanang dia adalah Mamah Emi. Mamah Emi ini adalah turunan dari Kuncen Gunung Padang Pak Cece yang sudah meninggal dunia.

Akhirnya perbincangan pun semakin menarik karena Mamah Emi dan Pak Nanang saling mengisi dan melengkapi sejarah dari Gunung Padang. Menurut Mamah Emi, batu-batu yang ada di situs megalitikum Gunung Padang Cianjur mempunyai makna tidak tersurat akan besaran Allah SWT. Coba lihat sisi-sisi batu megalitikum tersebut bentuknya berapa?. Lalu saya menghitung ada yang segi lima. Kemudian menjawab segi lima itu makna dari rukun islam itu ada lima.

Coba lihat lagi yang lain ada yang segi enam, itu menunjukan makna bahwa rukun iman itu ada enam. Kemudian saya melihat ada yang segi empat, lalu Mamah Emi mengungkapkan bahwa itu jumlah rakaat dalam shalat paling banyak ada empat rakaat.

Saya langsung mengucap Subhana Allah.. Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu semuanya punya makna untuk umatnya. Kemudian Mamah Emi menunjukkan kepada saya, coba lihat situs Gunung Padang ini mengarah ke sebelah mana?. Setelah dilihat dan dijelaskan oleh Mamah Emi ternyata Situs Gunung Padang sejajar dan dengan Gunung Keneng, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango yang artinya mengarah ke arah Barat atau Kiblat.

Lalu saya bertanya kepada Pak Nanang tentang keberadaan goa yang ada di situs Gunung Padang, tapi Pak Nanang dan Mamah Emi ini tidak mau menjelaskan tentang keberadaan Gunung Padang. Saya sendiri sebenarnya penasaran dengan keberadaan goa yang ada di Gunung Padang tetapi mereka berdua mohon maaf tidak bisa menjelaskan kepada saya.

Membuat saya semakin penasaran, lalu saya bertanya lagi tempat ini sekarang banyak dikunjungi oleh siapa saja. Mereka menjawab bahwa situs Gunung Padang kalau pada siang hari terutama pada hari minggu dan libur nasional, banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ingin mengetahui sejarah dan meneliti tentang situs tersebut.

Sedangkan pada malam hari terutama pada bulan Maulid dan malam Jumat Kliwon banyak pengunjung yang datang ke situs Gunung Padang untuk berziarah. Mereka berkunjung ke Gunung tersebut untuk berbagai kepentingan, ada yang meminta pengasihan, ada yang ingin di doakan agar anaknya pintar, ada yang minta penyembuhan, kenaikan pangkat bahkan ada juga orang-orang yang ingin menjadi pejabat. Salah satunya adalah almarhum Ali Sadikin ketika sebelum menjadi Gubernur pernah berziarah ke Gunung Padang.

Mamah Emi mengatakan kepada saya kalau mau berziarah jangan pada malam Sabtu. Karena karuhun atau leluhur yang ada di Gunung Padang sedang sowan atau berkunjung ke Cirebon. Saya penasaran lagi berarti Leluhur Gunung Padang ada hubungan dengan Cirebon. Ternyata benar salah satu wali yang berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati pun pernah singgah dan bersemedi di Gunung Padang tersebut.

Karena hari sudah mulai sore saya akhirnya mohon pamit kepada Pak Nanang dan Mamah Emi. Tapi sebelum pulang Mamah Emi berpesan kepada saya. Bahwa mereka berharap para pengunjung yang mengunjungi situs Gunung Padang untuk mengikuti aturan dan memiliki etika saat berkunjung ke situs Gunung Padang ini. 

Pertama sering-seringlah baca surat Al Ikhlas saat berkunjung ke Gunung Padang, kemudian jangan menggunakan tempat tersebut untuk berpacaran, karena tempat tersebut merupakan tempat suci dan disucikan oleh para leluhur serta untuk menenangkan diri dan mensyukuri semua ciptaan Sang Pencipta.

2 comments:

  1. Gan mau tanya, kalau dari stasiun lampegan ke gunung padang ada transportasi umum ga selain ojek?

    ReplyDelete