Museum Pasifika Nusa Dua Bali (Dok. Didno)
Saya baru pertama kali berkunjung ke Museum Pasifika Nusa Dua Bali. saat memasuki Museum Pasifika Nusa Dua Bali. Dari jalan menuju lokasi Museum Pasifika terlihat sejuk dan asri karena dihiasi dengan rumput dan pohon-pohon yang hijau. Kami dan rekan-rekan disapa ramah oleh petugas security yang ada di pos depan ini sesuai dengan sapta pesona yang ditetapkan oleh pemerintah yakni keramahan.


Saat memasuki pelataran Museum Pasifika yang terlihat bersih dan nyaman. Bangunan yang didirikan pada tahun 2006 oleh Moetaryanto P. dan Philippe Augier ini memiliki arsitektur khas dengan pulau Bali, mulai dari atap hingga ornamen pada pintunya. 

Saat memasuki museum yang memiliki lantai marmer berwarna putih ini, sudah terlihat keindahan ruangan ini di mulai dari lobby hingga ke ruangan lain di Museum Pasifika ini. Di Lobby sudah terpajang lukisan, buku-buku dan souvenir yang berhubungan dengan Museum Pasifika. 

Buku-buku ini memuat foto-foto karya seni yang ada di Museum Pasifika. Seperti La Korrigane, Modern Indonesia Art, Theo Meier, Indonesian Odyssey, Find Bali Before God, dan lain-lain.

Menyaksikan keindahan karya seni dari seniman dunia (Dok. Didno)
Setelah registrasi di lobby saya memasuki Ruangan I, di ruangan ini saya melihat lukisan dari Seniman dari Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi, Hendra Gunawan, Saraochmin Salim, Ida Bagus Njoman Rai, Nyoman Gunarsa, dan lain-lain. Saya dan rekan-rekan menyempatkan diri untuk melihat-lihat lukisan yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi ini. Mulai dari lukisan dengan ukuran normal hingga lukisan dengan ukuran yang sangat besar.

Setelah menyempatkan diri melihat-lihat lukisan di ruangan I, saya juga melihat-lihat lukisan yang ada di ruangan II. Di ruangan II ini dipajang karya seni dari Seniman Italia yang pernah bermukim di Indonesia seperti Renato Cristiano, Romualdo Locatelli, Piero Antonio Garriazo, Emilio Ambron, dan Gilda Ambron.

Di ruangan ini terpajang karya seni dari Seniman Belanda yang pernah tinggal di Indonesia seperti Willem Gerard Hofker, Auke Sonnega, Isac Israel, Aggrebek, Arie Smit, Hendrik Paulides, dan lain-lain. Di tempat inilah semua peserta akhirnya memasuki ruangan dan mulai berdiskusi tentang masalah-masalah ASEAN Blogger.

Acara ini dibuka oleh MC Eka Situmorang dilanjutkan sambutan dari Ketua Panitia ASEAN Blogger Community yakni Bapak Iman Brotoseno. Kemudian disusul sambutan dari Menkominfo Bapak Tifatul Sembiring. Setelah sambutan dari Bapak Tifatul Sembiring dilanjutkan sambutan dari Bapak Hazairin Pohan.

Setelah acara sambutan selesai acara dilanjutkan dengan perkenalan perwakilan dari negara-negara ASEAN yang dimoderatori oleh Onno W. Purbo. Peserta dari luar ASEAN ada 14 orang yakni dari Thailand, Malaysia, Laos, Vietnam, Filipina, Myanmar, Brunei Darussalam, Singapura, dan Kamboja. Setelah perkenalan dari perwakilan ASEAN Blogger, acara dihentikan sejenak untuk coffee break.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan dari pembicara-pembicara kondang seperti Dony BU, Enda Nasution, Anggara Suwahju, Nukman Lutfie, Shinta Bubu, dan Mike Orgill dari Google. Di Moderatori oleh moderator-moderator ulung sekelas Onno W. Purbo, dan Risa Hart.

Di antara acara pemaparan dari pembicara kondang kami sempat dibagi menjadi tiga kelompok A, B, dan C untuk membahas masalah deklarasi ASEAN Blogger dan permasalahan ASEAN Blogger. Acara dilanjutkan dengan makan siang.

Setelah acara Talk Show acara dilanjutkan touring ke Museum Pasifika yang dipandu oleh Ibu Reni Susanti Radi seorang pemandu dari Museum tersebut. Kita sama-sama memasuki ruangan XI yang menampilkan karya seni berupa lukisan dan patung dari Asia seperti Jepang, China, Thailand, Malaysia, Myanmar dan Philippina.

Dari karya seni yang terpajang di ruangan ini jelas bahwa pada jaman dulu masing-masing negara ASEAN mempunyai banyak persamaan di hampir segala aspek kehidupan. Seperti ada lukisan perempuan yang menggunakan kain batik dari Malaysia, suasana pasar di Singapura dan lain-lain.

Lukisan karya Affandi (Dok. Didno)


Di ruangan ini saya kagum dengan lukisan pemandangan di suatu pantai karya Affandi. Lukisan ini tercipta tanpa menggunakan kuas melainkan hanya menumpahkan cat kemudian dengan kelihaian tangannya dia membuat gambar perahu dan suasana laut dengan begitu indahnya.

Sayang belum sempat menikmati keseluruhan dari karya-karya di ruangan lain saya dan teman-teman dipanggil panitia untuk kembali ke ruang konferensi untuk membahas masalah Deklarasi ASEAN Blogger.

Sebenarnya ada beberapa ruangan lagi di Museum Pasifika ini seperti Ruangan IV yang menampilkan karya dari Seniman Prancis yang pernah tinggal di Indonesia seperti Lea Lafugie, Gabrielle Ferrand, Maurice Pillard-Veneuil, Francois Brochet, Gustave Bettinger, dan Pierre Sicard.

Ruangan V yang menampilkan Seniman Indo-Eropa yang pernah tinggal di Indonesia seperti Donald Friend, Miguel Covarrubias, Czeslaw Mystkowski, Roland Strasser, Adrien-Jean Le Mayer, dan Maurice Sterne.

Ruangan VI yang menjadi tempat eksibisi temporer. Kebanyakan di ruangan ini diisi dengan lukisan karya dari Theo Meier.

Ruangan VII yang menampilkan karya dari Seniman Indochina Peninsula seperti Laos, Kamboja, dan Vietnam. Di ruangan ini ditampilkan lukisan karya dari Victor Tardieu, Andre Maire, Evariste Johncere, Vu Cao Dam, Georges Groslier, dan Le Pho.

Ruangan VIII yang menampilkan karya dari Seniman Polinesia dan Tahiti. Di ruangan ini terpajang lukisan dari Fernando Amarsolo, Li Feng Mian, Hilda May Gordon, Adrien Emmanuel Marie, Roland Strasser, dan Lea Lafugie.

Ruangan IX menampilkan karya Seni Vanuatu dan Kepulauan Pasifik seperti lukisan dari Aloi Pilioko, Nicolai Michoutouchkine, selain lukisan di ruang ini juga ditampilkan patung yang diberi nama Warrior Apparel, Funerary Dummy, Slit Dump dan lain-lain.

Ruangan X menampilkan karya seni Tapa Oseania dan Pasifik. Di ruangan ini dipajang lukisan karya dari Henri Martisse, Paul Gauguin, Octave Morillot, Miguel Covarrubias, Nikolai Michoutouchkine, dan Lea Lafugie.

Nah bagi anda yang belum pernah mengunjungi Museum Pasifika ini ayo berkunjung ke museum ini. Dengan tiket hanya 70 ribu kita bisa menikmati karya seni dengan nilai seni yang tak tertandingi. Selain sebagai tempat wisata yang memamerkan karya seni dari seniman kelas dunia, museum ini juga berfungsi tempat konferensi.

Bagi instansi atau perusahaan yang ingin mengadakan pertemuan atau meeting, museum ini juga bisa digunakan untuk acara tersebut. Di tempat ini panitia pertemuan atau meeting tidak usah repot memikirkan coffee break dan makan karena dapat disediakan oleh pihak Museum Pasifika. Tidak ketinggalan untuk pementasan seni tari dan acara gala dinner, bagian tengah bangunan ini sangat seusai dengan konsep garden party.

Museum Pasifika Nusa Dua Bali Tempat Wisata Penggemar Seni

Museum Pasifika Nusa Dua Bali (Dok. Didno)
Saya baru pertama kali berkunjung ke Museum Pasifika Nusa Dua Bali. saat memasuki Museum Pasifika Nusa Dua Bali. Dari jalan menuju lokasi Museum Pasifika terlihat sejuk dan asri karena dihiasi dengan rumput dan pohon-pohon yang hijau. Kami dan rekan-rekan disapa ramah oleh petugas security yang ada di pos depan ini sesuai dengan sapta pesona yang ditetapkan oleh pemerintah yakni keramahan.


Saat memasuki pelataran Museum Pasifika yang terlihat bersih dan nyaman. Bangunan yang didirikan pada tahun 2006 oleh Moetaryanto P. dan Philippe Augier ini memiliki arsitektur khas dengan pulau Bali, mulai dari atap hingga ornamen pada pintunya. 

Saat memasuki museum yang memiliki lantai marmer berwarna putih ini, sudah terlihat keindahan ruangan ini di mulai dari lobby hingga ke ruangan lain di Museum Pasifika ini. Di Lobby sudah terpajang lukisan, buku-buku dan souvenir yang berhubungan dengan Museum Pasifika. 

Buku-buku ini memuat foto-foto karya seni yang ada di Museum Pasifika. Seperti La Korrigane, Modern Indonesia Art, Theo Meier, Indonesian Odyssey, Find Bali Before God, dan lain-lain.

Menyaksikan keindahan karya seni dari seniman dunia (Dok. Didno)
Setelah registrasi di lobby saya memasuki Ruangan I, di ruangan ini saya melihat lukisan dari Seniman dari Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi, Hendra Gunawan, Saraochmin Salim, Ida Bagus Njoman Rai, Nyoman Gunarsa, dan lain-lain. Saya dan rekan-rekan menyempatkan diri untuk melihat-lihat lukisan yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi ini. Mulai dari lukisan dengan ukuran normal hingga lukisan dengan ukuran yang sangat besar.

Setelah menyempatkan diri melihat-lihat lukisan di ruangan I, saya juga melihat-lihat lukisan yang ada di ruangan II. Di ruangan II ini dipajang karya seni dari Seniman Italia yang pernah bermukim di Indonesia seperti Renato Cristiano, Romualdo Locatelli, Piero Antonio Garriazo, Emilio Ambron, dan Gilda Ambron.

Di ruangan ini terpajang karya seni dari Seniman Belanda yang pernah tinggal di Indonesia seperti Willem Gerard Hofker, Auke Sonnega, Isac Israel, Aggrebek, Arie Smit, Hendrik Paulides, dan lain-lain. Di tempat inilah semua peserta akhirnya memasuki ruangan dan mulai berdiskusi tentang masalah-masalah ASEAN Blogger.

Acara ini dibuka oleh MC Eka Situmorang dilanjutkan sambutan dari Ketua Panitia ASEAN Blogger Community yakni Bapak Iman Brotoseno. Kemudian disusul sambutan dari Menkominfo Bapak Tifatul Sembiring. Setelah sambutan dari Bapak Tifatul Sembiring dilanjutkan sambutan dari Bapak Hazairin Pohan.

Setelah acara sambutan selesai acara dilanjutkan dengan perkenalan perwakilan dari negara-negara ASEAN yang dimoderatori oleh Onno W. Purbo. Peserta dari luar ASEAN ada 14 orang yakni dari Thailand, Malaysia, Laos, Vietnam, Filipina, Myanmar, Brunei Darussalam, Singapura, dan Kamboja. Setelah perkenalan dari perwakilan ASEAN Blogger, acara dihentikan sejenak untuk coffee break.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan dari pembicara-pembicara kondang seperti Dony BU, Enda Nasution, Anggara Suwahju, Nukman Lutfie, Shinta Bubu, dan Mike Orgill dari Google. Di Moderatori oleh moderator-moderator ulung sekelas Onno W. Purbo, dan Risa Hart.

Di antara acara pemaparan dari pembicara kondang kami sempat dibagi menjadi tiga kelompok A, B, dan C untuk membahas masalah deklarasi ASEAN Blogger dan permasalahan ASEAN Blogger. Acara dilanjutkan dengan makan siang.

Setelah acara Talk Show acara dilanjutkan touring ke Museum Pasifika yang dipandu oleh Ibu Reni Susanti Radi seorang pemandu dari Museum tersebut. Kita sama-sama memasuki ruangan XI yang menampilkan karya seni berupa lukisan dan patung dari Asia seperti Jepang, China, Thailand, Malaysia, Myanmar dan Philippina.

Dari karya seni yang terpajang di ruangan ini jelas bahwa pada jaman dulu masing-masing negara ASEAN mempunyai banyak persamaan di hampir segala aspek kehidupan. Seperti ada lukisan perempuan yang menggunakan kain batik dari Malaysia, suasana pasar di Singapura dan lain-lain.

Lukisan karya Affandi (Dok. Didno)


Di ruangan ini saya kagum dengan lukisan pemandangan di suatu pantai karya Affandi. Lukisan ini tercipta tanpa menggunakan kuas melainkan hanya menumpahkan cat kemudian dengan kelihaian tangannya dia membuat gambar perahu dan suasana laut dengan begitu indahnya.

Sayang belum sempat menikmati keseluruhan dari karya-karya di ruangan lain saya dan teman-teman dipanggil panitia untuk kembali ke ruang konferensi untuk membahas masalah Deklarasi ASEAN Blogger.

Sebenarnya ada beberapa ruangan lagi di Museum Pasifika ini seperti Ruangan IV yang menampilkan karya dari Seniman Prancis yang pernah tinggal di Indonesia seperti Lea Lafugie, Gabrielle Ferrand, Maurice Pillard-Veneuil, Francois Brochet, Gustave Bettinger, dan Pierre Sicard.

Ruangan V yang menampilkan Seniman Indo-Eropa yang pernah tinggal di Indonesia seperti Donald Friend, Miguel Covarrubias, Czeslaw Mystkowski, Roland Strasser, Adrien-Jean Le Mayer, dan Maurice Sterne.

Ruangan VI yang menjadi tempat eksibisi temporer. Kebanyakan di ruangan ini diisi dengan lukisan karya dari Theo Meier.

Ruangan VII yang menampilkan karya dari Seniman Indochina Peninsula seperti Laos, Kamboja, dan Vietnam. Di ruangan ini ditampilkan lukisan karya dari Victor Tardieu, Andre Maire, Evariste Johncere, Vu Cao Dam, Georges Groslier, dan Le Pho.

Ruangan VIII yang menampilkan karya dari Seniman Polinesia dan Tahiti. Di ruangan ini terpajang lukisan dari Fernando Amarsolo, Li Feng Mian, Hilda May Gordon, Adrien Emmanuel Marie, Roland Strasser, dan Lea Lafugie.

Ruangan IX menampilkan karya Seni Vanuatu dan Kepulauan Pasifik seperti lukisan dari Aloi Pilioko, Nicolai Michoutouchkine, selain lukisan di ruang ini juga ditampilkan patung yang diberi nama Warrior Apparel, Funerary Dummy, Slit Dump dan lain-lain.

Ruangan X menampilkan karya seni Tapa Oseania dan Pasifik. Di ruangan ini dipajang lukisan karya dari Henri Martisse, Paul Gauguin, Octave Morillot, Miguel Covarrubias, Nikolai Michoutouchkine, dan Lea Lafugie.

Nah bagi anda yang belum pernah mengunjungi Museum Pasifika ini ayo berkunjung ke museum ini. Dengan tiket hanya 70 ribu kita bisa menikmati karya seni dengan nilai seni yang tak tertandingi. Selain sebagai tempat wisata yang memamerkan karya seni dari seniman kelas dunia, museum ini juga berfungsi tempat konferensi.

Bagi instansi atau perusahaan yang ingin mengadakan pertemuan atau meeting, museum ini juga bisa digunakan untuk acara tersebut. Di tempat ini panitia pertemuan atau meeting tidak usah repot memikirkan coffee break dan makan karena dapat disediakan oleh pihak Museum Pasifika. Tidak ketinggalan untuk pementasan seni tari dan acara gala dinner, bagian tengah bangunan ini sangat seusai dengan konsep garden party.

No comments:

Post a Comment