Taman Sari Keraton Yogyakarta
Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Puluhan kali berkunjung ke Yogyakarta tapi baru kali ini menyusuri Taman Sari Keraton Yogyakarta. Beruntung perjalanan menyusuri Taman Sari Keraton Yogyakarta ditemani oleh Pemandu Wisata Bapak Dalyono yang dengan sabar dan cekatan mengajak kami berkeliling Taman Sari Keraton Yogyakarta.

Kami diajak bukan dari pintu depan tetapi dari pintu belakang Taman Sari. Taman Sari ini dulunya merupakan sebuah pesanggrahan tempat istirahat sultan dan keluarganya. Di tempat ini juga sering digunakan tempat bermain anak-anak Sultan, tempat mandi, dan tempat menenangkan diri.

Pemandu Wisata sedang menjelaskan Taman Sari Yogyakarta
Dipandu oleh Pak Dalyono (Dok. Didno)
Tapi kini keberadaannya hanya tinggal beberapa 4 bangunan utama saja dari awalnya 57 bangunan. Keempat bangunan tersebut adalah Umbul atau tempat pemandian, istana air, tempat semedi dan masjid bawah tanah yang sudah bercampur dengan rumah penduduk.

Bangunan Istana Air Taman Sari Yogyakarta
Benteng Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Rumah-rumah yang ada di Taman Sari ini merupakan keturunan dari abdi dalem Keraton Yogyakarta. Dulunya Sultan membolehkan abdi dalam bertempat tinggal di lingkungan Taman Sari.  Banyak bangunan yang kini sudah tidak utuh lagi dan bahkan beberapa sudah tidak berfungsi lagi.

Pemandu Wisata sedang menjelaskan bagian-bagian Taman Sari
Banguna Taman Sari dengan pemandangan rumah di sekitar Keraton (Dok. Didno)
Taman Sari ini didirikan pada tahun 1758-1765 atas saran dari Bupati Madiun sehingga kabupaten tersebut terbebas dari pajak ke Keraton Yogyakarta selama satu tahun. Pada bagian ini terdapat beberapa bagian tapi sebagian bangunan sudah runtuh akibat gempat bumi yang melanda Yogyakarta.
Lorong menuju Pulau Panembung
Pulau Panembung tempat bersemedi Sultan (Dok. Didno)
Pada bagian atas Taman Sari ini sebenarnya pengunjung awalnya bisa melihat keseluruhan Yogyakarta dari bangunan yang paling tinggi, tetapi karena kekuatan bangunan yang tidak memungkinkan dan banyaknya pengunjung yang ingin ke atas ini akhirnya tempat paling atas tidak dibuka untuk umum.
Lorong dari Gunung Panembung
Lorong menuju Pulau Panembung (Dok. Didno)
Pada bagian ini dulunya, Sultan sering menggunakan perahu untuk ke pulau yang ada Taman Sari tersebut untuk (Bersemedi) menenangkan diri di Pulau Panembung. Dulunya tempat ini hanya boleh dilalui oleh Keluarga Sultan saja.
Gapura Panggung
Pintu Masuk dan Pembelian tiket masuk Taman Sari (Dok. Didno)
Setelah berkeliling di Istana air dan Pulau Panembung kami pun menuju Gapura Panggung tempat membeli tiket masuk ke Taman Sari. Tempat ini yang terdiri dua bangunan yakni gedong Temanten (Tempat abdi dalam menjaga) dan Gedong pangumban (Tempat minum air teh Sultan).   

Pengunjung dari luar negeri di Taman Sari
Wisatawan dari mancanegara berkunjung ke Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Gapura Panggung sebenarnya pintu keluar Taman Sari. Gapura ini memiliki Patung Naga dan bintang-binatang yang dinamakan sangkala meumeut diartikan 4861 menurut kalender Jawa dibalik menjadi 1684. Ketinggian Gapura Panggung sekitar 10 meter untuk melihat putra-putrinya bermain saat itu nama permainan Patil Lele sejenis bisbol.
Pohon Kepel atau Burahol
Pohon Kepel atau Burahol (Dok. Didno)
Setelah masuk ada bangungan yang dinamakan Gedung Sekawan untuk istirahat istri Sultan jika tidak dipilih mandi berdua dengan Sultan. Di tempat ini ada beberapa pohon unik yakni pohon kepel atau burahol. Buahnya jika dimakan maka keringat kita akan beraroma wangi. Selain itu ada jeruk inggit yang mempunyai manfaat untuk kutek atau penghias kuku.

Gedong Sekawan
Pintu menuju ke pemandian Sultan dan keluarga (Dok. Didno)
Setelah dari Gedung Sekawan kami diajak ke Tempat Pemandian atau Bahasa Jawanya Umbul. Ada tiga umbul di sebelah utara ara Umbul Muncar yang digunakan untuk tempat mandi anak-anak Sultan, Umbul Kuras untuk istri Sultan, dan Umbul Binangun yang tertutup.
Umbul atau tempat pemandian isteri Sultan
Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Kebetulan Sultan Hamengku Buwono II mempunyai isteri sebanyak 25 dan memiliki 80 anak. Sultan akan melempar bunga untuk memilih istrei yang akan mandi dengannya. Isteri yang lain yang tidak mendapatkan bunga akan legowo (tidak cemburu) dan biasanya menunggu di Gedung Sekawan.
Umbul Binangun tempat mandi Sultan dan Isterinya
Tempat mandi Sultan dan Permaisuri (Dok. Didno)
Setelah puas mengelilingi Tempat Pemandian atau Umbul kami diajak untuk melihat Bangsal Lopak-lopak dimana bangunan segi enam yang kini sudah tidak ada lagi karena bencana gempa bumi. Tempat ini dulunya dijadikan tempat Sultan menikmati buah-buahan.
Bangsal Lopak-lopak
Bangsal Lopak-lopak (Dok. Didno)
Kemudian kami menuju ke Masjid Bawah Tanah tetapi kami dibelokkan ke salah satu toko batik Ayuni yang didalamnya menyimpan foto-foto Sultan dari Sultan Hamengku Buwono I hingga ke-10. Ada hal yang menarik setelah mendengar penjelasan dari gambar tersebut.
Foto-foto Sultan Hamengku Buwono
Salah satu toko batik yang menyimpan gambar Sultan Hamengku Buwono I hingga sekarang (Dok. Didno)
Dimana Sultan Hamengku Buwono VII tidak tinggal di Pesanggrahan Ambarukmo selama 10 tahun karena konflik dengan anaknya yang ingin cepat menjadi Sultan. Karena saking marahnya dia berujar besok setelah aku tidak ada Sultan yang meninggal di Keraton. Terbukti Sultan Hamengku Buwono VIII meninggal dalam perjalanan dari Belanda ke Jogja sementara Sultan Hamengku Buwono IX meninggal di Washington Amerika Serikat.
Masjid Bawah Tanah
Masjid Bawah Tanah (Dok. Didno)
Setelah itu baru kami sampai di Masjid Bawah Tanah. Sesampainya di Tajug atau Masjid Bawah Tanah ini, kami diajak melihat tempat sholat yang dulu digunakan oleh Sultan dan keluarganya. Bangunan yang terbuat dari batubata ini tidak menggunakan besi penyangga sama sekali tetapi tetap kokoh walaupun dilanda gempa bumi beberapa kali. Karena mereka menggunakan pondasi sedalam 6 meter.
Bagian Masjid Bawah Tanah
Pengunjung menikmati suasana masjid bawah tanah (Dok. Didno)
Masjid bawah tanah ini terdiri dari dua lantai, lantai bawah digunakan untuk kaum wanita dan yang atas untuk kaum pria. Zaman dahulu belum ada pengeras suara, maka teknologi yang digunakan adalah dengan menggunakan suatu ruang hampa udara di depan pengimaman yang digunakan untuk muadzin adzan sehingga suaranya terdengar oleh orang lain.
Kamar Mandi Tempo Dulu
Kamar mandi di Masjid Bawah Tanah (Dok. Didno)
Bangunan Masjid bawah tanah berada di bawah karena tidak boleh membuat bangunan melebihi bangunan keraton. Tapi ada beberapa orang yang memaksa membuat bangunan dua lantai tetapi ternyata ada yang rumah tangganya berantakan, ada juga yang usahanya bangkrut dan lain sebagainya.
Konstruksi Masjid Bawah Tanah Masih Kokoh
Konstruksi yang kokoh masjid bawah tanah (Dok. Didno)
Di tempat ini terdapat kamar mandi yang berada di lantai atas, konstruksinya di sekitarnya terdapat lobang-lubang kecil untuk ventilasi, tempat air dan tempat jongkok yang tidak pernah mengalami perubahan.
Taman Sari dari Tempat Pertunjukan Seni dan Budaya
Suasana taman sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Setelah semua dijelaskan oleh pemandu wisata kami pun kembali ke tempat parkir dimana kami memarkirkan kendaraan. Benar-benar pengalaman yang luar biasa bisa menyusuri dari ujung ke ujung Taman Sari Keraton Yogyakarta.  



Berikut ini peta menuju ke Taman Sari Keraton Yogyakarta. Semoga bermanfaat bagi Anda semua pembaca situs ini.

Menyusuri Taman Sari Keraton Yogyakarta

Taman Sari Keraton Yogyakarta
Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Puluhan kali berkunjung ke Yogyakarta tapi baru kali ini menyusuri Taman Sari Keraton Yogyakarta. Beruntung perjalanan menyusuri Taman Sari Keraton Yogyakarta ditemani oleh Pemandu Wisata Bapak Dalyono yang dengan sabar dan cekatan mengajak kami berkeliling Taman Sari Keraton Yogyakarta.

Kami diajak bukan dari pintu depan tetapi dari pintu belakang Taman Sari. Taman Sari ini dulunya merupakan sebuah pesanggrahan tempat istirahat sultan dan keluarganya. Di tempat ini juga sering digunakan tempat bermain anak-anak Sultan, tempat mandi, dan tempat menenangkan diri.

Pemandu Wisata sedang menjelaskan Taman Sari Yogyakarta
Dipandu oleh Pak Dalyono (Dok. Didno)
Tapi kini keberadaannya hanya tinggal beberapa 4 bangunan utama saja dari awalnya 57 bangunan. Keempat bangunan tersebut adalah Umbul atau tempat pemandian, istana air, tempat semedi dan masjid bawah tanah yang sudah bercampur dengan rumah penduduk.

Bangunan Istana Air Taman Sari Yogyakarta
Benteng Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Rumah-rumah yang ada di Taman Sari ini merupakan keturunan dari abdi dalem Keraton Yogyakarta. Dulunya Sultan membolehkan abdi dalam bertempat tinggal di lingkungan Taman Sari.  Banyak bangunan yang kini sudah tidak utuh lagi dan bahkan beberapa sudah tidak berfungsi lagi.

Pemandu Wisata sedang menjelaskan bagian-bagian Taman Sari
Banguna Taman Sari dengan pemandangan rumah di sekitar Keraton (Dok. Didno)
Taman Sari ini didirikan pada tahun 1758-1765 atas saran dari Bupati Madiun sehingga kabupaten tersebut terbebas dari pajak ke Keraton Yogyakarta selama satu tahun. Pada bagian ini terdapat beberapa bagian tapi sebagian bangunan sudah runtuh akibat gempat bumi yang melanda Yogyakarta.
Lorong menuju Pulau Panembung
Pulau Panembung tempat bersemedi Sultan (Dok. Didno)
Pada bagian atas Taman Sari ini sebenarnya pengunjung awalnya bisa melihat keseluruhan Yogyakarta dari bangunan yang paling tinggi, tetapi karena kekuatan bangunan yang tidak memungkinkan dan banyaknya pengunjung yang ingin ke atas ini akhirnya tempat paling atas tidak dibuka untuk umum.
Lorong dari Gunung Panembung
Lorong menuju Pulau Panembung (Dok. Didno)
Pada bagian ini dulunya, Sultan sering menggunakan perahu untuk ke pulau yang ada Taman Sari tersebut untuk (Bersemedi) menenangkan diri di Pulau Panembung. Dulunya tempat ini hanya boleh dilalui oleh Keluarga Sultan saja.
Gapura Panggung
Pintu Masuk dan Pembelian tiket masuk Taman Sari (Dok. Didno)
Setelah berkeliling di Istana air dan Pulau Panembung kami pun menuju Gapura Panggung tempat membeli tiket masuk ke Taman Sari. Tempat ini yang terdiri dua bangunan yakni gedong Temanten (Tempat abdi dalam menjaga) dan Gedong pangumban (Tempat minum air teh Sultan).   

Pengunjung dari luar negeri di Taman Sari
Wisatawan dari mancanegara berkunjung ke Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Gapura Panggung sebenarnya pintu keluar Taman Sari. Gapura ini memiliki Patung Naga dan bintang-binatang yang dinamakan sangkala meumeut diartikan 4861 menurut kalender Jawa dibalik menjadi 1684. Ketinggian Gapura Panggung sekitar 10 meter untuk melihat putra-putrinya bermain saat itu nama permainan Patil Lele sejenis bisbol.
Pohon Kepel atau Burahol
Pohon Kepel atau Burahol (Dok. Didno)
Setelah masuk ada bangungan yang dinamakan Gedung Sekawan untuk istirahat istri Sultan jika tidak dipilih mandi berdua dengan Sultan. Di tempat ini ada beberapa pohon unik yakni pohon kepel atau burahol. Buahnya jika dimakan maka keringat kita akan beraroma wangi. Selain itu ada jeruk inggit yang mempunyai manfaat untuk kutek atau penghias kuku.

Gedong Sekawan
Pintu menuju ke pemandian Sultan dan keluarga (Dok. Didno)
Setelah dari Gedung Sekawan kami diajak ke Tempat Pemandian atau Bahasa Jawanya Umbul. Ada tiga umbul di sebelah utara ara Umbul Muncar yang digunakan untuk tempat mandi anak-anak Sultan, Umbul Kuras untuk istri Sultan, dan Umbul Binangun yang tertutup.
Umbul atau tempat pemandian isteri Sultan
Taman Sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Kebetulan Sultan Hamengku Buwono II mempunyai isteri sebanyak 25 dan memiliki 80 anak. Sultan akan melempar bunga untuk memilih istrei yang akan mandi dengannya. Isteri yang lain yang tidak mendapatkan bunga akan legowo (tidak cemburu) dan biasanya menunggu di Gedung Sekawan.
Umbul Binangun tempat mandi Sultan dan Isterinya
Tempat mandi Sultan dan Permaisuri (Dok. Didno)
Setelah puas mengelilingi Tempat Pemandian atau Umbul kami diajak untuk melihat Bangsal Lopak-lopak dimana bangunan segi enam yang kini sudah tidak ada lagi karena bencana gempa bumi. Tempat ini dulunya dijadikan tempat Sultan menikmati buah-buahan.
Bangsal Lopak-lopak
Bangsal Lopak-lopak (Dok. Didno)
Kemudian kami menuju ke Masjid Bawah Tanah tetapi kami dibelokkan ke salah satu toko batik Ayuni yang didalamnya menyimpan foto-foto Sultan dari Sultan Hamengku Buwono I hingga ke-10. Ada hal yang menarik setelah mendengar penjelasan dari gambar tersebut.
Foto-foto Sultan Hamengku Buwono
Salah satu toko batik yang menyimpan gambar Sultan Hamengku Buwono I hingga sekarang (Dok. Didno)
Dimana Sultan Hamengku Buwono VII tidak tinggal di Pesanggrahan Ambarukmo selama 10 tahun karena konflik dengan anaknya yang ingin cepat menjadi Sultan. Karena saking marahnya dia berujar besok setelah aku tidak ada Sultan yang meninggal di Keraton. Terbukti Sultan Hamengku Buwono VIII meninggal dalam perjalanan dari Belanda ke Jogja sementara Sultan Hamengku Buwono IX meninggal di Washington Amerika Serikat.
Masjid Bawah Tanah
Masjid Bawah Tanah (Dok. Didno)
Setelah itu baru kami sampai di Masjid Bawah Tanah. Sesampainya di Tajug atau Masjid Bawah Tanah ini, kami diajak melihat tempat sholat yang dulu digunakan oleh Sultan dan keluarganya. Bangunan yang terbuat dari batubata ini tidak menggunakan besi penyangga sama sekali tetapi tetap kokoh walaupun dilanda gempa bumi beberapa kali. Karena mereka menggunakan pondasi sedalam 6 meter.
Bagian Masjid Bawah Tanah
Pengunjung menikmati suasana masjid bawah tanah (Dok. Didno)
Masjid bawah tanah ini terdiri dari dua lantai, lantai bawah digunakan untuk kaum wanita dan yang atas untuk kaum pria. Zaman dahulu belum ada pengeras suara, maka teknologi yang digunakan adalah dengan menggunakan suatu ruang hampa udara di depan pengimaman yang digunakan untuk muadzin adzan sehingga suaranya terdengar oleh orang lain.
Kamar Mandi Tempo Dulu
Kamar mandi di Masjid Bawah Tanah (Dok. Didno)
Bangunan Masjid bawah tanah berada di bawah karena tidak boleh membuat bangunan melebihi bangunan keraton. Tapi ada beberapa orang yang memaksa membuat bangunan dua lantai tetapi ternyata ada yang rumah tangganya berantakan, ada juga yang usahanya bangkrut dan lain sebagainya.
Konstruksi Masjid Bawah Tanah Masih Kokoh
Konstruksi yang kokoh masjid bawah tanah (Dok. Didno)
Di tempat ini terdapat kamar mandi yang berada di lantai atas, konstruksinya di sekitarnya terdapat lobang-lubang kecil untuk ventilasi, tempat air dan tempat jongkok yang tidak pernah mengalami perubahan.
Taman Sari dari Tempat Pertunjukan Seni dan Budaya
Suasana taman sari Keraton Yogyakarta (Dok. Didno)
Setelah semua dijelaskan oleh pemandu wisata kami pun kembali ke tempat parkir dimana kami memarkirkan kendaraan. Benar-benar pengalaman yang luar biasa bisa menyusuri dari ujung ke ujung Taman Sari Keraton Yogyakarta.  



Berikut ini peta menuju ke Taman Sari Keraton Yogyakarta. Semoga bermanfaat bagi Anda semua pembaca situs ini.

2 komentar:

  1. keren blognya gan, informatif banget hahaha. seru juga ya traveling ke tempat bersejarah, jadi pengen ke jogja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih ayo sebentar lagi liburan jangan lupa jalan-jalan

      Hapus