Home » » 1 Hari Bertemu 2 Sultan Dari 3 Keraton Cirebon

1 Hari Bertemu 2 Sultan Dari 3 Keraton Cirebon

Foto bareng Sultan Kacirebonan

Tanggal 31 Maret yang lalu benar-benar hari yang istimewa, karena Komunitas Blogger Indramayu, Komunitas Blogger Cirebon dan blogger dari Jakarta berkumpul untuk mengeksplor Pariwisata yang ada di Cirebon.

Seperti kita ketahui bersama Cirebon memiliki warisan sejarah yang tidak masih kokoh berdiri. Warisan bersejarah tersebut adalah 4 keraton yakni Keraton Kanoman, Kasepuhan, Kacerbonan, dan Keprabonan.

Pintu Gerbang Keraton Kanoman

Keraton yang pertama dikunjungi adalah Keraton Kanoman. Untuk menuju ke Keraton Kanoman ini Anda harus melewati pasar Kanoman. Bagi Anda yang hobi fotografi, tentu ini sangat menarik karena berbagai aktivitas bisa Anda lihat dan bisa menjadi obyek yang menarik untuk difoto. Dari orang yang sedang jualan, barang yang dijual pun bervariasi dari makanan, pakaian, buah-buahan bahkan hingga permainan anak pun ada disini.

Siti Hinggil Keraton Kanoman

Untuk masuk ke keraton Kanoman Anda tidak dikenakan tiket masuk kecuali jika Anda akan masuk ke Gedung Pusaka Keraton Kanoman Cirebon dikenakan biaya 7 ribu rupiah. Di keraton kanoman terdiri dari beberapa bagian bangunan.

Salah satu bangunan di Keraton Kanoman Cirebon

Pada bagian depan Keraton Kanoman Cirebon terdapat Candi Bentar yang berisi Siti Hinggil, dan Bangsal Sekaten.  Selain itu ada pula Bansal Pangrawit, Prabayaksa, witana, Pulantara, Bangsal Ukiran, Kedaton, dan Gedong Pusaka.

Gedung Pusaka

Di antara bangunan ini yang paling menarik adalah Gedong Pusaka. Karena di tempat ini tersimpan berbagai peninggalan bersejarah seperti Kereta Paksi Naga Liman yang dibuat pada masa Sunan Gunung Jati yakni sekitar tahun 1428. Ini berdasarkan bukti otentik di leher kereta Paksi Naga Liman tersebut.

Kereta Paksi Naga Liman

Kereta Paksi Naga Liman merupakan perpaduan tiga binatang yakni burung, naga dan gajah. Ini merupakan perlambang dari tiga agama yakni Burung melambangkan agama Islam, naga melambangkan agama Budha, dan gajah melambangkan agama Hindu.

Kereta Jempana

Selain kereta Paksi Naga Liman, ada pula kereta Jempana. Kereta ini digunakan untuk mengangkut permaisuri raja. Di kereta inilah terdapat motif batik yang menjadi ciri khas daerah Cirebon yakni Mega Mendung. Sebenarnya selain mega mendung ada motif batu karas. Perbedaannya kalau mega mendung bentuknya horizontal sedangkan batu karas vertikal.

Meriam Zaman VOC

Di tempat ini terdapat beberapa peninggalan bersejarah lainnya seperti senjata berupa meriam pada zaman VOC, tombak, cakra, pedang, tameng,  keris dan lain sebagainya. Ada satu pusaka yang tidak disimpan di Museum yakni Keris Nagasosro. Keris ini kalau dikeluarkan dari sangkarnya harus ada nyawa melayang.

Bekas pintu dan senjata keraton

Selain senjata-senjata tadi di dalam lemari di Gedung Pusaka ini terdapat beberapa peti yang merupakan peninggalan bangsa China. Ada pula pintu-pintu yang dulu pernah digunakan. Pintu tersebut ada yang bergambar Surantaka, Paksi Naga Jalmi dan lain sebagainya.

Gamelan Kuno

Di tempat ini ada juga macam-macam topeng yang sering digunakan pada saat pementasan tari topeng. Selain itu ada sederatan gamelan yang dulunya sering digunakan saat pementasan kesenian tradisional. Tetapi gamelan ini akan keluar dan dibersihkan setiap tanggal satu Suro.

Di dalam keraton Kanoman

Setelah puas berkeliling Gedung Pusaka, kami mengunjungi Keraton utama.  Di dalamnya terdapat Raja Keraton Kanoman menerima tamu agung. Uniknya di dekat singgasana raja ini terdapat batu karas berukuran besar sebagai hiasannya.

Lonceng besar di sekitar keraton Kanoman

Di luar keraton kami menemukan hal yang menarik berupa lonceng besar seperti di gereja-gereja. Lonceng ini digunakan untuk penanda waktu. Lokasinya dekat dengan langgar (tempat shalat) di Keraton Kanoman.

Keraton Kacirebonan

Tujuan kunjungan ke keraton berikutnya adalah mengunjungi Keraton Kacerbonan. Untuk masuk ke keraton ini pengunjung cukup membayar sepuluh ribu saja. Kalau rombongan berjumlah besar biasanya akan ada pemandu yang akan menceritakan sejarah Keraton Kacirebonan dan benda-benda yang ada di keraton tersebut.

Pedang Raja Belanda

Pemandu wisata yang ada di keraton ini menjelaskan semua benda-benda yang ada di dalam keraton Kacirebonan. Mulai dari lambang Keraton Kacirebonan sampai benda-benda pusaka yang ada di dalam keraton tersebut.

Surat perjanjian Willem Daendels

Ada hal yang menarik di Keraton Kacirebonan yakni surat perjanjian antara Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang ditandatangani olehnya. Ukuran kertasnya pun berbeda dengan kertas sekarang. Tetapi kondisinya masih terawat dengan baik di dalam Keraton Kacirebonan.

Bertemu dengan Sultan Kacirebonan

Setelah pemandu menyampaikan penjelasannya, tiba-tiba dia berkata kepada kami bahwa Sultan bersedia menemui kami para blogger. Dalam hati ini sesuatu hal yang luar biasa, mengingat beberapa menit yang lalu beberapa rekan wartawan dan media online berkunjung ke keraton ini, tetapi Sultan tidak menemuinya.

Foto bareng Sultan Kacirebonan

Tidak berapa lama, Sultan Kacirebonan yakni Pangeran Abdul Gani Natadiningrat keluar dan menemui kami. Senang sekali rasanya para blogger disambut oleh Sultan Kacirebonan. Kami yakin bahwa para Sultan sekarang sudah mulai melek IT dan mengganggap blogger sebagai barisan paling depan untuk promosi wisata termasuk di Cirebon.

Sultan sedang berbicara kepada blogger

Kata sambutan dari Sultan pun terucap yang intinya meminta kepada kami untuk terus membantu mempromosikan pariwisata khususnya keraton Kacirebonan kepada masyarakat luas. Pihak keraton memberikan penjelasan tentang daya tarik apa saja yang dimiliki oleh pihak keraton salah satunya adalah atraksi seni dan budaya.

Selain itu, sekarang Keraton Kacirebonan ingin mengabadikan kuliner tradisional agar tidak hilang di telan zaman. Oleh karena itu pihak keraton membuat tempat kuliner di lingkungan keraton yang bernama Pawon Bogana. Ditempat ini menu khasnya adalah Bogana. Makanan ini ada sejak zaman Sunan Gunung Jati. Makanan ini mempunyai filosofi yang luhur, dimana bentuk kerucut tersebut menandakan bahwa seseorang harus menuju ke atas atau Sang Pencipta.


Setelah sesi tanya jawab dengan blogger, kami pun pamit undur diri untuk meninggalkan Sultan Kacirebonan untuk istiraha makan dan shalat duhur terlebih dahulu. Setelah itu kami bersiap kembali untuk menuju ke Keraton Kasepuhan.

Keraton Kasepuhan

Di Keraton Kasepuhan saat itu sedang berlansung satu acara yakni penyambutan Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya dan Gubernur Jawa Barat Bapak Ahmad Heryawan dalam rangka Seminar Seminar Strategi Promosi Wisata Menuju Destinasi Pariwisata.


Ketika kami datang, berbarengan dengan rombongan Gubernur dan menteri sehingga disambut bak tamu kehormatan. Semua orang tertuju kepada seluruh rombongan yang datang tidak terkecuali rombongan blogger.
Tim pengamanan di Keraton Kasepuhan Cirebon

Kami pun bisa langsung masuk ke dalam Keraton, pada hari biasa pengunjung tidak diizinkan untuk masuk ke dalam keraton. Sehingga bisa melihat dari dekat Sultan Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat,  Gubernur Ahmad Heryawan dan Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya.

Sultan Kasepuhan, Menteri Pariwisata, dan Gubernur Jawa Barat

Saat setelah acara seminar, kami menyempatkan diri bersalaman dengan Sultan Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat. Ini kali kedua setelah sebelumnya kami diterima oleh beliau dalam acara sowan blogger Cirebon dan Indramayu ke Keraton Kasepuhan. Beruntung sekali dalam sehari kami bisa bertemu dengan dua sultan di tiga keraton. 

0 Comments:

Post a Comment