Tuesday, December 7, 2021

Mengenal Sejarah Mataram Dari Museum Kasunanan Surakarta

 

Keraton Kasunan Surakarta (Dok. Didno)

Siang itu hujan rintik-rintik sepanjang perjalanan dari hotel menuju ke Keratonan Kasunanan Surakarta. Tetapi tidak mengurangi semangat untuk mengunjungi keraton Kasunanan Surakarta yang memiliki sejarah yang panjang tersebut.

 

Setelah bertahun-tahun tidak ke Solo ternyata banyak perubahan dari penataan kota, taman hingga di sekitar keraton Kasunanan Surakarta. Bila sebelumnya pintu masuk dari alun-alun utara, sekarang tidak lagi tetapi melalui jalan Supit Urang.

Pintu masuk Keraton Surakarta

 

Pada saat sampai di pelataran Keraton Kasunanan Surakarta, keraton tidak dibuka untuk umum karena masih pandemi. Tetapi wisatawan masih bisa melihat Museum Keraton Surakarta yang lokasinya tidak jauh dari Pintu Masuk Keraton.

 


Tiket masuk ke Museum Kasunanan Surakarta hanya Rp.15.000/orang, Setiap hari buka dari jam 09.00 - 14.00 hari Jum'at libur. Pada saat ke tempat ini wisatawan harus mematuhi protokol kesehatan dengan disiapkan keran untuk cuci tangan dan suhu tubuh pengunjung dicek terlebih dahulu.

 


Setelah dicek suhu, wisatawan akan masuk ke ruangan yang berisi berbagai peralatan memasak dari jaman dahulu seperti kukusan, dandang, kipas dari bambu. Selain itu ada juga peralatan lain seperti teko, gerabah, lumpang, piring keramik, congklakan, pakaian tradisional hingga miniatur rumah joglo.

 

Di ruang berikutnya pengunjung akan melihat diorama Pangeran Diponegoro, gambar Jenderal KGPH Adipati Panembahan Djatikusumo. Ada juga peralatan dan senjata baik tradisional atau modern yang pernah ada dan digunakan baik pada zaman penjajahan Belanda atau sebelumnya.  


 

Di ruang sebelahnya terdapat beberapa jolen yang biasa digunakan untuk mengangkut benda-benda sakral dan seseji pada saat upacara adat. Tidak jauh dari tempat jolen ada kepala kerbau keramat yang disebut Kiai Slamet. Ada juga seragam prajurit keraton Surakarta yang tersimpan rapi di lemari.

 


Selain itu ada juga kereta yang diberi nama Kyai Morosebo yang bertuliskan tahun 1770, yakni kereta yang digunakan oleh Pakubuwono III.  Tidak jauh dari kereta Kyai Morosebo terdapat kereta Kyai Groedo, kereta kencana yang digunakan oleh Sultan dari Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Menariknya di kereta ini sudah ada logo VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada zaman penjajahan Belanda.

Kereta Kiai Moro Sebo


Di ruang sebelahnya terdapat alat angkut tradisional yang diangkat oleh beberapa abdi dalem keraton. Alat ini ada beberapa jenis seperti tandu atau joli jempono yang digunakan untuk mengangkut putri raja jadi pengantin atau saat bepergian. Ada pula Kremun yakni alat untuk mengangkut peralatan dari keraton seperti pakaian atau yang lainnya. Serta gawangan yakni alat yang digunakan untuk menggantungkan sesaji.



Setelah puas mengeliling satu gedung, kami bergeser ke gedung lainnya. Ada beberapa peralatan seperti kecohan, tempat rokok, ketel, kendi pratolo, bokor yang terbuat dari bahan logam.   



Ruang sebelahnya terdapat peralatan yang digunakan acara adat seperti Wilujengan atau Selametan. Tradisi ini sudah menggunakan doa-doa memakai lafal Islam tetapi kelengkapannya menggunakan sesaji cara Jawa akulturasi atau percampuran antara Islam dan budaya Jawa.


Selain itu ada juga Mongasira yakni tongkat yang digunakan oleh khotib atau Imam pada saat Sholat Jumat, tasbih,  dan yang menarik ada Al Quran dengan terjemahan bahasa Jawa. Tidak jauh dari tempat tersebut ada beberapa pusaka atau senjata yang dibuat oleh para pandai besi.



Ruangan berikutnya berisi alat-alat musik seperti rebab dari gading, gong, topeng, alat tayuban, dan lain-lain. Di sebelahnya terdapat koleksi wayang. Tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat beberapa patung, dan hiasan dinding yang terbuat dari tembaga.


Disebelahnya terdapat patung-patung mini Hindu dan Budha yang terbuat dari logam dan patung yang terbuat dari batu yang diletakkan di tengah ruangan. Selain itu ada juga peralatan upacara keagamaan. Terdapat prasasti yang terbuat dari perunggu.

Prasasti perunggu


Di ruangan terakhir terdapat singgasana, mahkota, gambar  puteri-puteri dalem keraton dan sultan kasunanan Surakarta dari Pakubowono I.


Karena tidak bisa masuk ke dalam keraton, kami hanya bisa mengintip dari celah pintu ke keraton Kasunanan Surakarta.


Tidak jauh dari pintu keluar ada bagian yang menarik yakni Silsilah Dinasti Mataram. Silsilah ini penting bagi generasi muda yang ingin mempelajari sejarah asal mula Kasunanan Surakarta. 



Tapi sayangnya di museum ini sangat minim informasi dari setiap benda yang dipajang di dalam museum Keraton Kasunanan Surakarta, sehingga pengunjung tidak bisa mengetahui nama benda tersebut dan mengapa ada di museum tersebut. Semoga ke depannya pihak pengelola menerima masukan ini. Untuk video lengkapnya silakan lihat videonya di bawah ini : 

0 Comments:

Post a Comment